Lompat ke isi utama

Berita

Lolly Suhenty Kunjungi Pasar Terapung Lok Baintan ; Demokrasi yang Bagus, Demokrasi yang Tidak Tercerabut dari Akar Budaya

Lolly Suhenty Kunjungi Pasar Terapung Lok Baintan ; Demokrasi yang Bagus, Demokrasi yang Tidak Tercerabut dari Akar Budaya

Lolly Suhenty Kunjungi Pasar Terapung Lok Baintan ; Demokrasi yang Bagus, Demokrasi yang Tidak Tercerabut dari Akar Budaya

Anggota Bawaslu RI, lolly Suhenty berwisata susur sungai sekaligus berbelanja di Pasar Terapung Lok Baintan Kalimantan Selatan, Sabtu (26/7/2025). Didampingi Anggota Bawaslu Kalimantan Selatan Thessa Aji Budiono, Muhammad Radini dan Anggota Bawaslu Tapin A Fadzlur Rahman, rombongan menaiki Kelotok (Perahu Bermesin) dari dermaga hotel Swiss Bell Banjarmasin sekitar pukul 05.30 WITA. Sekitar satu jam menyusuri sungai, sampai di Pasar Terapung Lok Baintan.

Pasar Terapung Lok Baintan adalah pasar tradisional yang terletak di Desa Sungai Pinang, kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Provinsi Kalimantan Selatan. Jual-beli dilakukan di atas perahu. Pasar ini sudah ada sejak zaman Kesultanan Banjar dan menjadi salah satu ikon budaya Kalimantan Selatan.

Pasar ini menjual berbagai produk lokal, seperti hasil pertanian, perkebunan, kerajinan lokal, dan kuliner khas Banjar.
Pedagang didominasi oleh perempuan dengan pakaian tradisional khas Banjar, seperti kerudung dan caping purun.

Dalam konteks pendidikan politik dan demokrasi, Budaya lokal memainkan peran penting karena dapat mempengaruhi perilaku dan partisipasi masyarakat dalam proses politik dan demokrasi.

Lolly mengatakan bahwa demokrasi yang bagus, demokrasi yang tidak tercerabut dari akar budaya setempat. Ibu-ibu penjual pasar terapung yang mayoritas adalah perempuan selain menjadi ibu rumah tangga, juga kadang jadi tulang punggung nafkah keluarga. Meskipun tergolong masyarakat desa, ibu-ibu penjual faktanya mampu menyesuaikan zaman, seperti berjualan diselingi berpantun ketika melayani jual beli wisatawan, bahkan menyediakan QRis dalam transaksi.

"Demokrasi yang bagus, demokrasi yang tidak tercerabut dari akar budaya", Ungkapnya. "Penjualnya mayoritas adalah perempuan, selain menjadi ibu rumah tangga, juga jadi penopang ekonomi keluarga. Meskipun tergolong masyarakat desa, faktanya mereka mampu menyesuaikan zaman, seperti berjualan diselingi berpantun, bahkan menyediakan QRis dalam transaksi", Lolly melanjutkan.

Foto dan Editor : Humas